News

Mahasiswa ISI Solo Raih Juara di Festival Film Horor 2025, Karya FTV Tembus Nasional

Berkah Lumintu - Wednesday, 31 December 2025 | 03:52 PM

Background
Mahasiswa ISI Solo Raih Juara di Festival Film Horor 2025, Karya FTV Tembus Nasional
Bikin Merinding di Pesisir Pacitan! Film Horor Mahasiswa ISI Solo Kalahkan Ratusan Karya, Ini Prestasinya

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Mahasiswa Program Studi Film dan Televisi (FTV) berhasil mengharumkan nama kampus seni ternama tersebut di kancah nasional melalui ajang Festival Film Horor (FFH) 2025. Dalam kompetisi bergengsi itu, film berjudul Diam-Diam, Aku Ingin Melawan sukses meraih Juara 3 kategori umum, bersaing dengan ratusan karya sineas dari seluruh Indonesia.

Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian personal bagi tim produksi, tetapi juga bukti kualitas pendidikan dan kreativitas mahasiswa ISI Solo dalam dunia perfilman, khususnya genre horor yang sarat nilai budaya dan eksplorasi artistik.

Festival Film Horor 2025: Ajang Bergengsi Skala Nasional

Festival Film Horor (FFH) 2025 diselenggarakan oleh Ruang Film Pacitan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pacitan. Mengusung tema besar “Hantu-Hantu Pesisir (Folklor)”, festival ini digelar pada 12–14 Desember 2025 di kawasan Pantai Pancer Dorr, Pacitan.

Menariknya, FFH 2025 tercatat sebagai festival film horor pertama di Indonesia yang digelar di kawasan pesisir. Lokasi unik ini memberikan pengalaman berbeda, sekaligus memperkuat keterkaitan antara horor, alam, dan folklor lokal yang menjadi akar cerita masyarakat pesisir.

Festival ini diinisiasi oleh sineas nasional Garin Nugroho dan berhasil menyedot perhatian publik luas. Lebih dari 1.000 pengunjung hadir selama pelaksanaan festival. Tidak kurang dari 285 film horor dari sineas seluruh Indonesia ikut berpartisipasi, menjadikan FFH 2025 sebagai salah satu peristiwa penting dalam perkembangan perfilman nasional.

Film Mahasiswa ISI Solo Tembus Persaingan Ketat

Di tengah ketatnya persaingan ratusan film, karya mahasiswa ISI Solo berjudul Diam-Diam, Aku Ingin Melawan berhasil mencuri perhatian dewan juri. Film ini diproduksi oleh Moro-Moro Production, unit kreatif yang digawangi mahasiswa FTV ISI Surakarta.

Film tersebut dinilai mampu mengolah unsur horor secara cerdas, tidak hanya mengandalkan kejutan visual, tetapi juga memanfaatkan narasi dan atmosfer yang kuat. Pendekatan ini sejalan dengan semangat FFH 2025 yang menempatkan horor sebagai medium refleksi atas pengalaman manusia, budaya, dan folklor lokal.

Pada kategori umum, film karya mahasiswa ISI Solo ini akhirnya ditetapkan sebagai Juara 3, sebuah capaian luar biasa mengingat kategori ini diikuti sineas lintas usia dan latar belakang profesional.

Tim Kreatif di Balik Film “Diam-Diam, Aku Ingin Melawan”

Film Diam-Diam, Aku Ingin Melawan diproduseri oleh Muhammad Ibrahim, disutradarai oleh Muhammad Labib Pratama, dan diwakili oleh Ali Ridho sebagai perwakilan tim produksi. Ketiganya hadir langsung memenuhi undangan resmi panitia FFH 2025 di Pacitan sebagai bentuk apresiasi atas karya mereka.

Atas prestasi tersebut, tim Moro-Moro Production berhak menerima piala berbentuk tengkorak perunggu, sertifikat penghargaan, serta uang pembinaan. Penghargaan ini menjadi modal penting bagi para mahasiswa untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi di industri film nasional.

ISI Solo dan Konsistensi Prestasi di Dunia Seni

Keberhasilan mahasiswa FTV ini semakin menegaskan posisi ISI Solo sebagai salah satu institusi pendidikan seni terdepan di Indonesia. Kampus ini dikenal konsisten melahirkan seniman dan sineas muda yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan budaya dan keberanian bereksperimen.

Partisipasi dan kemenangan di FFH 2025 juga menunjukkan bahwa mahasiswa ISI Solo mampu bersaing di luar lingkungan akademik, menembus festival nasional dengan standar kurasi yang ketat.

Festival sebagai Ruang Belajar dan Refleksi

FFH 2025 tidak sekadar menjadi ajang lomba, tetapi juga ruang belajar bersama. Festival ini menghadirkan tiga kategori peserta, yakni Eksebisi, Pelajar, dan Umum, yang membuka peluang dialog lintas generasi sineas. Diskusi, pemutaran film, dan refleksi tema horor menjadi bagian penting dari rangkaian acara.

Bagi mahasiswa ISI Solo, keterlibatan dalam festival ini menjadi pengalaman berharga untuk memahami dinamika industri film sekaligus memperluas jejaring kreatif.

Popular Article